Ada yang tertinggal di langit sore itu. Bukan awan yang berlalu, bukan pula hujan yang malu-malu datang. Melainkan rindu, yang pelan-pelan kukirim ke angkasa, berharap angin sudi menyampaikan pada seseorang yang tak lagi bisa kutemui.
Kala Hati Masih Tinggal, Namun Ragamu Telah Pergi
Tak semua kepergian sempat diiringi kata pamit. Sebagaimana kau yang pergi begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa isyarat yang sempat kubaca. Kau diam, lalu menghilang, seolah hari-hari yang telah kita rajut hanya sebait puisi musiman yang usang ditelan waktu.
Dulu, ada tawa yang kita bagi, ada rencana kecil yang kita tata. Bahkan hal remeh seperti warna langit senja pun sempat kita perdebatkan. Tapi kini? Hanya aku dan bayangmu yang tinggal. Di pojok-pojok sepi yang sering aku kunjungi seorang diri.
Aku Belajar, Bahwa Tak Semua yang Kita Cintai Harus Kita Miliki
Kupikir cinta adalah soal dua hati yang saling menggenggam, saling menguatkan. Nyatanya, kau mengajarkanku versi yang lain. Cinta adalah tentang memberi jalan, walau itu berarti harus mundur dengan dada yang remuk redam.
Tak ada yang lebih menyakitkan dari mencintai seseorang yang tak bisa diperjuangkan. Dan yang lebih menyayat, adalah menyimpan semuanya dalam diam. Karena bahkan jika aku berkata, dunia pun tak berpihak. Kita, tak pernah bisa berada di sisi yang sama.
Rindu Ini Tak Menuntut Balas, Hanya Ingin Dipahami
Aku tidak berharap kau kembali. Tidak juga menunggu dengan harap yang tak waras. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa di malam-malam tertentu, masih ada aku yang diam-diam menyebut namamu dalam doa. Masih ada aku yang, entah mengapa, tak bisa benar-benar sembuh.
Mereka bilang waktu akan menghapus segalanya. Tapi tidak dengan rasa yang satu ini. Ia menetap, tenang di permukaan, tapi bergemuruh di kedalaman.
Andai Kau Menoleh, Sekali Saja
Barangkali kini kau bahagia, di tempatmu yang baru, dengan seseorang yang lebih layak. Dan itu baik. Aku pun turut mendoakan. Tapi jika suatu hari kau menoleh, dan menyadari ada seseorang yang pernah mencintaimu sedalam ini, ketahuilah, ia masih menyimpan sisa rindunya di langit, di antara bintang-bintang yang dulu kau suka.
Dan bila kelak kau merasa sendu tanpa sebab, mungkin itu rindu yang kubisikkan diam-diam pada angin.
Tentang Penulis
Ambar Arum Putri Hapsari
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.