Logo Universitas STEKOM
MENU
Doa Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan dalam Islam Setelah Malam Nisfu Sya’ban Berlalu
Informasi 1078 views

Doa Nisfu Sya’ban dan Amalan yang Dianjurkan dalam Islam Setelah Malam Nisfu Sya’ban Berlalu

W

Wizdan Ulum

Informasi

Published

calendar_today 3 Februari 2026

Berdoa di malam Nisfu Sya’ban adalah salah satu amalan yang dikenal luas di tengah umat Islam sebagai bentuk permohonan ampunan dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Malam Nisfu Sya’ban dipahami sebagai momen refleksi spiritual, di mana seorang muslim dianjurkan memperbanyak doa, istigfar, dan ibadah sunnah sebagai persiapan menuju bulan Ramadhan.

Dalam berbagai riwayat, bulan Sya’ban disebut sebagai waktu diangkatnya amal perbuatan manusia. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan meningkatkan kualitas ibadah, baik pada malam Nisfu Sya’ban maupun di hari-hari lainnya sepanjang bulan ini.

 

Apakah Amalan Nisfu Sya’ban Masih Bisa Dilakukan Setelah Malamnya Berlalu?

Banyak umat Islam merasa khawatir ketika melewatkan malam Nisfu Sya’ban. Padahal, doa dan amalan kebaikan tidak terikat sepenuhnya oleh waktu tertentu. Selama dilakukan dengan niat yang ikhlas, doa tetap bernilai ibadah dan menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Para ulama sepakat bahwa membaca doa, memperbanyak istighfar, serta melakukan amalan sunnah tetap dianjurkan meskipun malam Nisfu Sya’ban telah berlalu. Yang terpenting adalah menjaga kontinuitas ibadah, bukan sekadar mengejar satu momentum saja.

 

Doa Nisfu Sya’ban yang Dianjurkan untuk Dibaca

Salah satu amalan yang sering dilakukan adalah membaca doa Nisfu Sya’ban yang berisi permohonan ampunan, perlindungan, dan keberkahan. Doa ini dapat dibaca kapan saja, baik setelah shalat wajib maupun shalat sunnah, dengan penuh kekhusyukan dan penghayatan.

Teks Arab
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْهِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، ظَهْرَ اللَّاجِئِينَ، وَجَارَ الْمُسْتَجِيرِينَ، وَأَمَانَ الْخَائِفِينَ
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي فِي أُمِّ الْكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مَطْرُودًا أَوْ مُقَتَّرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَطَرْدِي وَتَقْتِيرَ رِزْقِي
وَأَثْبِتْنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيدًا مَرْزُوقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ، فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنَزَّلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
اللَّهُمَّ بِالتَّجَلِّي الْأَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِي يُفْرَقُ فِيهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ، أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لَا نَعْلَمُ، وَمَا أَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Latin

Allahumma yaa dzal manni wa laa yumannu ‘alaih, yaa dzal jalaali wal ikraam, yaa dzath thauli wal in‘aam, laa ilaaha illaa anta, zhahrall laaji’iin, wa jaaral mustajiiriin, wa amaanal khaa’ifiin.

Allahumma in kunta katabtanii fii ummil kitaabi syaqiyyan aw mahruman aw mathruudan aw muqattaran ‘alayya fir rizqi, famhu Allahumma bifadhlika syaqaawatii wa hirmaanii wa thardii wa taqtiira rizqii.

Wa atsbitnii ‘indaka fii ummil kitaabi sa‘iidan marzuuqan muwaffaqan lil khairaati, fa innaka qulta wa qawluka al-haqq fii kitaabikal munazzali ‘alaa lisaani nabiyyikal mursal. Yamhu Allahu maa yasyaa’u wa yutsbit wa ‘indahu ummul kitaab.

Allahumma bittajallil a‘zham fii lailatin nishfi min syahri sya‘baanal mukarram allatii yufraqu fiihaa kullu amrin hakiim, an taksyifa ‘annaa minal balaa’i maa na‘lamu wa maa laa na‘lam, wa maa anta bihi a‘lam, innaka antal a‘azzu al-akram.

Wa shallallahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Artinya

Ya Allah, wahai Dzat yang memberi anugerah dan tidak diberi anugerah, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Tidak ada Tuhan selain Engkau, tempat berlindung orang-orang yang berharap, pelindung orang-orang yang meminta perlindungan, dan pemberi rasa aman bagi orang-orang yang takut.

Ya Allah, jika Engkau mencatat aku dalam Lauhul Mahfuz sebagai orang yang celaka, terhalang rezekinya, terusir, atau disempitkan rezekinya, maka hapuskanlah semua itu dengan karunia-Mu. Tetapkanlah aku sebagai orang yang bahagia, diberi rezeki, dan dimudahkan dalam kebaikan.

Sesungguhnya Engkau telah berfirman dan firman-Mu adalah benar. Engkau menghapus dan menetapkan apa yang Engkau kehendaki, dan di sisi-Mu terdapat Lauhul Mahfuz.

Ya Allah, dengan kemuliaan malam Nisfu Sya’ban, hindarkanlah kami dari segala bala yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Mulia.

 

Amalan yang Dianjurkan Meski Malam Nisfu Sya’ban Telah Berlalu

Selain doa, terdapat beberapa amalan Nisfu Sya’ban yang tetap bisa dilakukan setelah malamnya berlalu. Umat Islam dianjurkan memperbanyak istigfar sebagai bentuk penyesalan atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Membaca Al-Qur’an, termasuk surat Yasin, juga menjadi amalan yang baik untuk menenangkan hati dan menambah pahala.

Puasa sunnah di bulan Sya’ban, terutama puasa Ayyamul Bidh atau puasa di pertengahan bulan, juga sangat dianjurkan. Amalan ini menjadi latihan spiritual sebelum memasuki bulan Ramadhan serta menunjukkan kesungguhan dalam beribadah.

 

BACA JUGA: Puasa Qadha Ramadhan dan Nisfu Sya’ban Apakah Boleh Digabung

 

Hikmah Melanjutkan Amalan Setelah Nisfu Sya’ban

Melanjutkan doa dan amalan setelah malam Nisfu Sya’ban berlalu mengajarkan bahwa ibadah tidak bersifat musiman. Islam mendorong umatnya untuk konsisten dalam berbuat kebaikan, baik di waktu-waktu utama maupun di hari biasa. Dengan tetap berdoa dan beramal, seorang muslim melatih keistiqomahan serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap waktu adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini juga menjadi bekal mental dan spiritual dalam menyambut bulan Ramadhan dengan hati yang lebih bersih.

 

Doa Nisfu Sya’ban dan amalan yang dianjurkan dalam Islam tetap memiliki nilai ibadah meskipun malam Nisfu Sya’ban telah berlalu. Tidak ada kata terlambat untuk berdoa, memohon ampunan, dan memperbaiki diri. Yang terpenting adalah niat yang tulus dan komitmen untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah yang konsisten dan penuh kesadaran.

W

About the Author

Wizdan Ulum

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.