Logo Universitas STEKOM
MENU
Mengapa Kasus Gaslighting di Dunia Kerja Masih Sering Terjadi?
Informasi 0 views

Mengapa Kasus Gaslighting di Dunia Kerja Masih Sering Terjadi?

G

Gusti Ayu Tita P

Informasi

Published

calendar_today 10 Januari 2026

Gaslighting di dunia kerja merupakan bentuk manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan pemikiran, perasaan, ingatan, atau kemampuan dirinya sendiri. Fenomena ini dapat terjadi antara atasan dan bawahan, rekan kerja, bahkan dalam hubungan kerja yang tampak profesional di permukaan. Sayangnya, kasus seperti ini masih sering ditemukan di berbagai lingkungan kerja modern.

Banyak karyawan tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami gaslighting karena perilakunya sering dilakukan secara halus dan berulang. Akibatnya, korban menjadi kehilangan rasa percaya diri, merasa bersalah tanpa alasan yang jelas, dan mengalami penurunan produktivitas kerja. Kondisi ini menjadikan gaslighting sebagai salah satu masalah yang perlu mendapatkan perhatian serius dari perusahaan maupun pekerja.

KURANGNYA PEMAHAMAN TENTANG GASLIGHTING

Salah satu alasan utama mengapa kasus gaslighting di tempat kerja masih sering terjadi adalah rendahnya pemahaman mengenai bentuk dan ciri-cirinya. Banyak orang menganggap perilaku seperti meremehkan pendapat, menyalahkan secara terus-menerus, atau memutarbalikkan fakta sebagai hal yang biasa dalam lingkungan kerja yang kompetitif. Padahal, tindakan tersebut dapat menjadi bagian dari pola gaslighting yang merugikan kesehatan mental korban.

Kurangnya edukasi membuat korban sering kali tidak mampu mengenali bahwa dirinya sedang dimanipulasi secara psikologis. Di sisi lain, pelaku juga mungkin tidak menyadari bahwa perilakunya termasuk tindakan yang tidak sehat. Akibatnya, praktik tersebut terus berulang tanpa adanya upaya perbaikan yang berarti.

BUDAYA KERJA YANG TERLALU HIERARKIS

Lingkungan kerja yang memiliki struktur organisasi sangat kaku sering menjadi tempat berkembangnya perilaku gaslighting. Dalam budaya kerja seperti ini, bawahan cenderung takut mengungkapkan pendapat atau mempertanyakan keputusan atasan karena khawatir dianggap tidak loyal atau tidak profesional.

Ketidakseimbangan kekuasaan tersebut membuka peluang bagi sebagian pihak untuk melakukan manipulasi tanpa mendapat perlawanan. Korban sering memilih diam demi menjaga pekerjaan atau kariernya. Akibatnya, perilaku gaslighting dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama tanpa terdeteksi oleh manajemen perusahaan.

KURANGNYA SISTEM PELAPORAN YANG AMAN

Banyak perusahaan belum memiliki mekanisme pelaporan yang benar-benar aman dan terpercaya untuk menangani masalah psikologis di tempat kerja. Ketika mengalami gaslighting, karyawan sering merasa takut untuk melapor karena khawatir mendapatkan balasan negatif, penilaian buruk, atau bahkan kehilangan kesempatan promosi.

Selain itu, tidak sedikit pekerja yang merasa laporan mereka tidak akan ditindaklanjuti secara serius. Kondisi ini membuat korban memilih memendam masalah yang dialaminya. Tanpa sistem pelaporan yang efektif, kasus gaslighting akan sulit terungkap dan berpotensi terus terjadi kepada karyawan lainnya.

TEKANAN TARGET DAN PERSAINGAN KERJA

Persaingan yang ketat dan tuntutan pencapaian target sering menciptakan lingkungan kerja yang penuh tekanan. Dalam kondisi seperti ini, sebagian individu mungkin menggunakan cara-cara manipulatif untuk mempertahankan posisi, meningkatkan citra diri, atau mengalihkan kesalahan kepada orang lain.

Perilaku seperti menyalahkan rekan kerja, meragukan kemampuan anggota tim, atau memutarbalikkan fakta sering muncul ketika tekanan kerja meningkat. Jika tidak dikendalikan, budaya tersebut dapat berkembang menjadi praktik gaslighting yang merugikan banyak pihak dan menurunkan kualitas hubungan kerja dalam organisasi.

DAMPAK GASLIGHTING TERHADAP KARYAWAN DAN PERUSAHAAN

Dampak gaslighting tidak hanya dirasakan oleh korban secara individu, tetapi juga memengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. Korban sering mengalami stres berkepanjangan, kehilangan kepercayaan diri, penurunan motivasi kerja, hingga kesulitan mengambil keputusan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko burnout dan keinginan untuk resign.

Bagi perusahaan, tingginya angka gaslighting dapat menurunkan produktivitas tim, meningkatkan tingkat turnover karyawan, serta merusak budaya kerja yang sehat. Reputasi perusahaan juga dapat terdampak apabila lingkungan kerja dianggap tidak mendukung kesejahteraan karyawan. Oleh karena itu, pencegahan gaslighting merupakan investasi penting bagi keberlangsungan organisasi.

CARA MENCEGAH GASLIGHTING DI DUNIA KERJA

Pencegahan gaslighting memerlukan komitmen dari seluruh pihak dalam organisasi. Perusahaan perlu memberikan edukasi mengenai kesehatan mental, komunikasi yang sehat, dan perilaku kerja profesional. Pelatihan semacam ini dapat membantu karyawan mengenali serta menghindari tindakan manipulatif sejak dini.

Selain itu, perusahaan harus menyediakan saluran pelaporan yang aman, transparan, dan bebas dari intimidasi. Budaya kerja yang menghargai keterbukaan, saling menghormati, dan akuntabilitas juga perlu dibangun secara konsisten. Dengan langkah tersebut, risiko terjadinya gaslighting dapat diminimalkan sehingga tercipta lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif.

KESIMPULAN

Kasus gaslighting di dunia kerja masih sering terjadi karena berbagai faktor, mulai dari kurangnya pemahaman, budaya kerja yang terlalu hierarkis, lemahnya sistem pelaporan, hingga tingginya tekanan kerja. Dampaknya tidak hanya merugikan korban secara psikologis, tetapi juga memengaruhi produktivitas dan reputasi perusahaan.

Meningkatkan kesadaran mengenai gaslighting, membangun komunikasi yang sehat, serta menyediakan perlindungan bagi karyawan merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman. Dengan memahami dan mencegah praktik ini, perusahaan dapat membangun budaya kerja yang lebih positif, profesional, dan berkelanjutan.

G

About the Author

Gusti Ayu Tita P

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.