Sejak Juni lalu, Indonesia menapaki babak baru dalam penyelenggaraan ibadah haji dengan lahirnya Kementerian Haji dan Umrah. Puncak dari transformasi tersebut terjadi pada 8 September 2025, ketika Presiden Prabowo Subianto melantik Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) sebagai Menteri Haji dan Umrah pertama Republik Indonesia. Langkah ini menandai era baru dari badan penyelenggara ke kementerian resmi.
Latar Belakang Pembentukan Kementerian
Sebelumnya penyelenggaraan haji berada di bawah Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal. Pada 22 Oktober 2024, dibentuk Badan Penyelenggara Haji yang dipimpin Gus Irfan sebagai kepala. DPR lalu mengesahkan revisi UU Haji dan Umrah yang memungkinkan pembentukan kementerian baru dan mengubah status BP Haji menjadi Kementerian Haji dan Umrah pada 8 September 2025.
Profil Sosok Pemimpin
Identitas keluarga dan pendidikan
Lahir di Jombang, 24 Juni 1962 (beberapa sumber menyebut April, tapi Wiki mengonfirmasi Juni). Ia adalah cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari, sosok sentral dalam Islam dan pesantren di Indonesia.
Pendidikan formalnya berlangsung di SMPP Jombang (lulus 1981) dan kemudian S1 (1985) serta S2 (2002) di Universitas Brawijaya, serta PhD Manajemen Pendidikan Islam dari UIN Malang (selesai Februari 2025).Karier pesantren dan organisasi
Aktif sejak 1989 sebagai Sekretaris Umum Pesantren Tebuireng, menjadi Komisaris Utama PT BPR Tebuireng (1996–2016), serta pengasuh Pesantren Al-Farros sejak 2006. Ia juga pernah jadi Wakil Ketua LPNU dan pengurus RMI NU Jatim.
Karir politik
Kader Partai Gerindra, juru bicara Prabowo–Sandiaga (2019), terpilih sebagai Anggota DPR RI Dapil Jatim VIII (77.433 suara) pada 2024—karier parlemen hanya bertahan sekitar tiga minggu karena kemudian dilantik sebagai Kepala BP Haji (22 Oktober 2024).
Kenapa Gus Irfan Terpilih?
Transformasi badan menjadi kementerian membutuhkan figur yang punya pemahaman mendalam tentang pesantren, birokrasi, dan politik. Gus Irfan memenuhi tiga kriteria penting:
Latar agama dan pesantren
Sebagai cucu tokoh NU dan pengasuh pesantren, ia punya otoritas moral kuat.
Pengalaman organisasional
Membuktikan kapasitas manajerial dalam lembaga pesantren dan bisnis.
Kemampuan politis dan birokratik
Penyelenggara BP Haji, calon legislatif, dan juru bicara: memudahkan transisi ke struktur baru.
Tantangan dan Tugas Ke Depan
Sebagai pemimpin kementerian baru, Gus Irfan menghadapi sejumlah tugas krusial:
Penyelenggaraan Haji 2026
Pertama kali di bawah kementerian baru. Harus menjaga pelayanan optimal meski sebagian besar proses sudah lewat tangan BP Haji sebelum berubah status.
Menjawab kebijakan Arab Saudi
Seperti belum diumumkannya kuota haji 2026—Indonesia diminta menyiapkan berdasarkan perhitungan tahun lalu (kuota 221.000 jemaah: 203.320 reguler, 17.680 khusus).
Menyesuaikan timeline
Arab Saudi mempercepat kontrak layanan mulai Agustus 2025 dan membuka penerimaan visa hingga 1 Syawal. Pemerintah Indonesia memanfaatkan dana Badan Pengelola Keuangan Haji sebagai setoran awal.
Implementasi layanan one-stop dan modernisasi
Integrasi seluruh layanan haji dan umrah di bawah satu kementerian mencakup fasilitas, teknologi, akomodasi, transportasi, hingga layanan kesehatan jemaah.
Dengan pelantikan Mochamad Irfan Yusuf sebagai Menteri Haji dan Umrah pada 8 September 2025, Indonesia memasuki era baru dalam tata kelola ibadah haji dan umrah. Ace-based pada akar pesantren, pengalaman manajerial, dan rekam jejak politik, Gus Irfan diharapkan mampu mewujudkan pelayanan ibadah yang lebih profesional, responsif, dan adaptif terhadap dinamika global.
About the Author
Wizdan Ulum
Author — STEKOM University
An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.