Logo Universitas STEKOM
MENU
Siswa SMAN 12 Semarang Ikuti Program Edukasi Inklusi Bersama Universitas STEKOM
Beasiswa 421 views

Siswa SMAN 12 Semarang Ikuti Program Edukasi Inklusi Bersama Universitas STEKOM

E

Ejelita Elifatun Nisa

Beasiswa

Published

calendar_today 5 Januari 2026

Universitas STEKOM (Universitas Sains dan Teknologi Komputer) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan nilai kemanusiaan dan pendidikan berkeadilan melalui penyelenggaraan Program Wisata Edukasi dan Pengabdian Masyarakat Inklusi. Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran berbasis pengalaman yang mengintegrasikan edukasi, kepedulian sosial, serta pengembangan karakter bagi siswa SMA dan SMK terpilih dari berbagai daerah di Indonesia.

Dari SMAN 12 Semarang, dua siswi terpilih mengikuti program ini, yakni Meyshinta Dhea Arum Sari dan Queen Hoky Soraya. Keduanya berhasil lolos melalui proses seleksi nasional yang ketat dari ribuan pendaftar dan dinyatakan sebagai bagian dari 24 peserta terbaik yang memperoleh kesempatan mengikuti program edukasi inklusi bersama Universitas STEKOM.

Program wisata edukasi dan pengabdian masyarakat inklusi yang bernama Pelatihan Kebekerjaan untuk Anak Berkebutuhan Khusus ini berlangsung selama 11 hari 8 malam, mulai 24 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan di Provinsi Bali dengan lokasi utama pengabdian masyarakat bertempat di SLB Buleleng dan SLB Karangasem.

Melalui program ini, Universitas STEKOM berupaya memberikan pengalaman nyata kepada peserta untuk memahami pentingnya pendidikan inklusif, membangun empati sosial, serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki hak dan kesempatan yang setara untuk berkembang dan berkarya.

Tour Wisata Edukasi Bali

Rangkaian kegiatan diawali pada hari pertama hingga hari ketiga dengan agenda tour wisata edukasi Bali. Para peserta diajak mengenal budaya, sejarah, dan nilai kearifan lokal masyarakat Bali melalui kunjungan ke sejumlah destinasi inspiratif, di antaranya Pantai Gerokgak, Pura Gunung Gondol, Pulaki Temple, Pulaki Beach, dan Gili Putih.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mempelajari nilai harmoni kehidupan masyarakat Bali yang menjunjung keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Agenda wisata edukasi ini menjadi landasan awal sebelum peserta terlibat langsung dalam kegiatan pengabdian masyarakat inklusi.

Pengabdian Masyarakat Inklusi di SLB

Memasuki hari keempat hingga hari ketujuh, kegiatan difokuskan pada pengabdian masyarakat inklusi yang dilaksanakan di SLB Buleleng dan SLB Karangasem. Pada tahap ini, peserta mengikuti Pelatihan Kebekerjaan untuk Anak Berkebutuhan Khusus yang disusun secara kontekstual sesuai dengan potensi dan kemampuan peserta didik SLB.

Meyshinta Dhea Arum Sari dan Queen Hoky Soraya bersama peserta lainnya terlibat aktif dalam pendampingan siswa, pengenalan keterampilan dasar, simulasi aktivitas kerja sederhana, serta kegiatan edukatif yang bertujuan menumbuhkan kemandirian dan rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus. Interaksi langsung tersebut memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya pendekatan yang empatik, inklusif, dan humanis dalam proses pendidikan.

Wisata Alam dan Religi

Pada hari kedelapan hingga hari kesepuluh, peserta mengikuti agenda wisata alam dan religi yang dirancang sebagai sarana refleksi diri dan dokumentasi perjalanan sosial. Destinasi yang dikunjungi meliputi Gunung Batur dan Kintamani, Pantai Amed, Tirta Gangga, Lempuyang Temple, serta Pantai Tulamben.

Kegiatan ini menjadi momen bagi peserta untuk merenungkan pengalaman pengabdian yang telah dijalani, sekaligus memperkuat nilai spiritual, rasa syukur, dan kepedulian sosial. Refleksi yang diperoleh diharapkan mampu membentuk kesadaran peserta akan peran generasi muda dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif.

Refleksi Bersama dan Komitmen Keberlanjutan

Rangkaian program ditutup pada hari kesebelas melalui sesi refleksi dan berbagi pengalaman. Dalam sesi ini, para peserta menyampaikan pembelajaran yang diperoleh selama kegiatan serta komitmen pribadi untuk terus mendukung pengembangan pendidikan inklusi di lingkungan sekolah dan masyarakat masing-masing. Nilai utama yang ditegaskan dalam penutupan kegiatan adalah keyakinan bahwa setiap anak memiliki hak untuk bermimpi dan bekerja sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Rektor Universitas STEKOM, Dr. Joseph Teguh Santoso, M.Kom, menyampaikan pandangan personalnya terkait pelaksanaan program ini.

“Melalui program ini, saya berharap para peserta dapat merasakan langsung makna empati dan kepedulian sosial. Pengalaman di lapangan akan menjadi pembelajaran yang membentuk karakter dan menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan inklusif adalah tanggung jawab bersama, baik hari ini maupun di masa depan,” ujarnya.

Melalui perjalanan ini, Universitas STEKOM bersama para peserta hadir untuk belajar, berbagi, dan tumbuh bersama. Dari Bali, langkah ini menjadi wujud nyata upaya membangun harapan baru bagi pendidikan inklusi dan kemandirian masa depan yang berkelanjutan.

E

About the Author

Ejelita Elifatun Nisa

Author — STEKOM University

An active author focused on academic issues, educational technology, and human resource development in the campus environment.