<p style="font-size:10px">
sumber img: X @neVerAl0nely___
</p>
Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang dikejutkan dengan kabar meninggalnya Dwinanda Linchia Levi (35), seorang dosen yang dikenal aktif dan berdedikasi. Korban ditemukan tewas di sebuah kamar hotel di kawasan Gajahmungkur dalam kondisi yang langsung menimbulkan tanda tanya.
Penemuan jenazah dilakukan oleh seorang anggota polisi, AKBP Basuki, yang kemudian segera melapor ke pihak kepolisian. Kondisi Levi saat ditemukan dianggap tidak wajar, sehingga kasusnya langsung menyita perhatian publik.
Kejanggalan yang Memicu Pertanyaan
Sejumlah kejanggalan membuat masyarakat menduga ada sesuatu yang belum terungkap dari kematian ini. Korban ditemukan tanpa busana, tergeletak di lantai kamar, dan dua hari sebelumnya sempat dirawat karena tekanan darah sangat tinggi serta gula darah mencapai 600. Kondisi tubuhnya yang memburuk menambah kerumitan penyelidikan.
Detail lain yang menonjol adalah pernyataan bahwa Levi sempat meminta tubuhnya dibaluri minyak kayu putih sebelum meninggal. Permintaan tersebut dianggap aneh dan menimbulkan spekulasi terkait kondisi fisik maupun mentalnya saat itu.
Hubungan pribadi antara korban dan AKBP Basuki menjadi sorotan besar. Keduanya diketahui menjalin kedekatan sejak 2020. Fakta ini diperkuat dengan penempatan Basuki dalam pemeriksaan khusus (patsus) oleh Propam Polda Jateng terkait dugaan pelanggaran etik, sebuah langkah yang membuat publik semakin fokus pada keterlibatannya.
Respons Publik dan Pihak Kampus
Kematian ini menimbulkan gelombang reaksi dari mahasiswa, dosen, dan alumni UNTAG. Banyak yang menyuarakan keprihatinan dan menuntut agar penyelidikan dilakukan secara transparan, terutama karena beberapa informasi awal dianggap belum memadai.
Civitas akademika berharap pihak kepolisian segera memberikan penjelasan resmi mengenai hasil autopsi, kronologi rinci, serta alasan di balik kondisi korban saat ditemukan. Pihak kampus juga menyatakan duka mendalam dan meminta masyarakat menunggu perkembangan resmi sembari menghormati keluarga korban.
Pemeriksaan Etik terhadap AKBP Basuki
Sosok AKBP Basuki kini berada dalam pusat perhatian karena menjadi saksi kunci sekaligus pihak yang pertama kali menemukan Levi. Propam menilainya perlu menjalani proses pemeriksaan etik karena kedekatannya dengan korban berpotensi melanggar kode etik profesi Polri.
Pemeriksaan ini juga penting untuk menentukan apakah terdapat tindakan atau kelalaian yang berpengaruh pada kejadian tragis tersebut. Publik berharap pemeriksaan ini dilakukan secara obyektif, tanpa intervensi pihak manapun.
Tuntutan Keluarga dan Harapan Publik
Keluarga Levi serta komunitas kampus mendesak agar penyelidikan dilakukan jujur, terbuka, dan profesional. Mereka menyoroti adanya banyak detail yang dinilai janggal dan belum diberikan penjelasan lengkap. Harapan besar disampaikan agar kasus ini tidak ditutup-tutupi dan setiap fakta yang relevan dapat diungkap ke publik.
Masyarakat menilai bahwa penyelesaian kasus ini akan menjadi contoh penting terkait komitmen penegak hukum dalam menangani kematian yang mengandung potensi kejanggalan.
Kasus kematian Dwinanda Linchia Levi, dosen UNTAG Semarang, masih menyimpan banyak misteri. Berbagai kejanggalan sejak penemuan jenazah, kondisi kesehatan korban, hingga kedekatan dengan AKBP Basuki membuat penyelidikan ini terus menjadi perhatian besar. Publik berharap proses penyidikan yang sedang berlangsung berjalan transparan, objektif, dan berlandaskan kebenaran, sehingga seluruh fakta dapat terungkap.