Lasem, 15 Januari 2026 — Proses belajar tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Justru, pengalaman langsung seringkali memberikan pemahaman yang lebih mendalam. Hal tersebut dirasakan oleh Naufal Rafif Adzaki, siswa dari SMA Negeri 5 Semarang, saat mengikuti kegiatan sosialisasi strategi kebekerjaan bagi siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Lasem bersama Universitas STEKOM.
Dalam kegiatan ini, Naufal menjadi salah satu siswa yang terlibat aktif. Ia tidak hanya mengikuti jalannya acara, tetapi juga turut hadir dalam setiap proses interaksi, mulai dari berkenalan hingga mendampingi siswa-siswa disabilitas.

Melalui interaksi sederhana yang terjalin, Naufal mulai memahami bahwa setiap individu memiliki cara belajar dan berkembang yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk dihargai sebagai bagian dari keberagaman.
Kegiatan diawali dengan suasana yang hangat dan penuh keterbukaan. Percakapan ringan menjadi langkah awal dalam membangun kedekatan. Dari situ, tumbuh kesadaran bahwa inklusivitas dimulai dari sikap saling menerima.
Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Universitas STEKOM dan SLB Negeri Lasem. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat dukungan dalam mempersiapkan siswa berkebutuhan khusus menuju dunia kerja.

Pada sesi pendampingan tes kerja, Naufal menyaksikan secara langsung bagaimana siswa-siswa disabilitas berusaha menyelesaikan setiap tahapan sesuai dengan kemampuan mereka. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa kesempatan dan lingkungan yang suportif memiliki peran yang sangat besar.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan ke Noyo Gimbal View. Momen tersebut menjadi waktu refleksi atas pengalaman yang telah dilalui sepanjang kegiatan.

Rektor Universitas STEKOM, Dr. Joseph Teguh Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran bersama.
“Perjalanan ini bukan hanya tentang kegiatan, tetapi tentang belajar memahami dan tumbuh bersama. Dari setiap pertemuan, selalu ada hal yang bisa dipelajari dan dibawa pulang.”
Bagi Naufal, pengalaman ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk cara pandang baru. Ia menyadari bahwa inklusivitas dapat dimulai dari hal sederhana—hadir, mendengarkan, dan memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang.