<p style="font-size:10px">sumber img: X @unilubis</p>
Istilah Homeless Media mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah muncul kabar mengenai pertemuan sejumlah media digital dengan Badan Komunikasi Pemerintah atau Bakom RI. Pertemuan tersebut melibatkan komunitas yang disebut tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF).
Polemik semakin meluas setelah beberapa akun media digital dan kreator konten memberikan klarifikasi terbuka terkait keterlibatan mereka dalam forum tersebut. Sebagian pihak membantah menjadi bagian resmi dari INMF maupun memiliki kerja sama khusus dengan pemerintah.
Apa Itu Homeless Media
Istilah Homeless Media merujuk pada media berbasis platform digital dan media sosial yang tidak selalu memiliki situs web resmi seperti media konvensional. Konten mereka umumnya disebarkan melalui Instagram, TikTok, YouTube, maupun platform X.
Fenomena ini berkembang pesat karena pola konsumsi informasi masyarakat mulai bergeser ke media sosial. Banyak akun digital yang memiliki jutaan pengikut dan mampu menyebarkan informasi dengan cepat kepada generasi muda. Namun, keberadaan homeless media juga memunculkan perdebatan terkait standar jurnalistik, verifikasi informasi, hingga independensi konten yang dipublikasikan.
Awal Mula Polemik INMF
Polemik bermula ketika Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menyampaikan bahwa pemerintah merangkul media baru atau homeless media untuk memperluas penyebaran informasi publik melalui kanal digital.
Dalam penjelasannya, Bakom menyebut pertemuan tersebut bertujuan membuka ruang komunikasi dengan pelaku media digital. Pemerintah juga menegaskan tidak ada kontrak maupun arahan editorial kepada media-media tersebut. Meski demikian, publik mulai mempertanyakan independensi media digital setelah daftar sejumlah akun disebut terkait dengan INMF dan menjadi mitra komunikasi pemerintah.
Daftar Media yang Disebut Sebagai Mitra Bakom RI
Berikut sejumlah media digital dan akun yang disebut dalam konferensi pers Bakom RI sebagai bagian dari ekosistem New Media Forum atau homeless media:
- Folkative
- Indozone
- Dagelan
- Indomusikgram
- Infipop
- Narasi
- Muslim Folks
- USS Feeds
- Bapak-Bapak ID
- Menjadi Manusia
- GNFI
- Cretivox
- Kok Bisa
- Taubatters
- Pandemic Talks
- Kawan Hawa
- Volix Media
- Ngomongin Uang
- Big Alpha
- Goodstats
- Hai Dudu
- Proud Project
- Vibiz Media
- Unframed
- Kumpul Leaders
- CXO Media
- The Maple Media
- How to be Nothing
- Everest Media
- Geometry Media
- Folks Daily
- Dream
- Melodi Alam
- NKTSHI
- Modestalk
- Lead Media
- Nalar TV
- Mahasiswa dan Jakarta
- Notch Plus
- Mature Indonesia
Daftar tersebut ramai diperbincangkan karena beberapa media langsung memberikan bantahan terbuka dan menegaskan tidak tergabung dalam forum pemerintah.
Sejumlah Media Beri Klarifikasi
Beberapa media digital yang namanya beredar langsung memberikan klarifikasi melalui media sosial masing-masing. Mereka menegaskan tidak tergabung dalam forum pemerintah maupun tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Salah satu yang memberikan pernyataan adalah Narasi. Mereka menegaskan bahwa Narasi merupakan media resmi yang telah terverifikasi Dewan Pers dan tidak bergabung dalam INMF.
Selain Narasi, akun seperti Bapak-Bapak ID, Ngomongin Uang, Menjadi Manusia, Big Alpha, dan Indomusikgram juga menyampaikan klarifikasi serupa melalui akun resmi mereka. Klarifikasi tersebut kemudian memicu diskusi luas di media sosial mengenai hubungan antara pemerintah dan media digital independen.
BACA JUGA: Haerul Saleh Meninggal Dunia dalam Kebakaran Rumah di Jakarta Selatan
INMF Tegaskan Bersifat Independen
Melalui akun media sosial resminya, INMF menjelaskan bahwa forum tersebut merupakan inisiatif kolektif dari sejumlah pelaku media baru yang dibentuk untuk memperkuat ekosistem media digital.
Mereka menyebut organisasi itu hadir untuk memperjuangkan ekosistem media digital yang sehat, independen, dan akuntabel. INMF juga membantah anggapan bahwa forum tersebut merupakan hasil kerja sama pemerintah secara langsung.
Beberapa poin yang disampaikan INMF antara lain:
- Mendukung ekosistem media digital yang sehat
- Menjaga independensi media baru
- Membuka ruang diskusi dan pembelajaran
- Mendorong transparansi informasi publik
Respon Publik di Media Sosial
Isu homeless media memicu berbagai reaksi dari netizen. Sebagian mendukung upaya pemerintah menjangkau publik melalui media digital modern. Namun, tidak sedikit pula yang khawatir mengenai potensi konflik kepentingan dalam penyebaran informasi.
Diskusi mengenai homeless media bahkan ramai dibahas di forum daring dan media sosial. Banyak pengguna internet menilai media digital perlu tetap menjaga prinsip verifikasi dan keberimbangan informasi agar tidak kehilangan kepercayaan publik.
Di sisi lain, ada pula yang menilai polemik ini menunjukkan besarnya pengaruh media sosial dalam membentuk opini publik di era digital.
Perubahan Lanskap Media Digital
Kemunculan homeless media sebenarnya menjadi bagian dari transformasi industri media di Indonesia. Kini, masyarakat tidak hanya mengonsumsi berita dari televisi atau portal berita konvensional, tetapi juga melalui konten singkat di media sosial.
Model distribusi informasi seperti ini membuat penyebaran berita menjadi lebih cepat dan mudah diakses. Namun, tantangan mengenai akurasi, etika jurnalistik, dan transparansi tetap menjadi perhatian utama. Karena itu, banyak pihak berharap perkembangan media digital di Indonesia dapat tetap berjalan seimbang antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab penyampaian informasi.
Polemik mengenai Homeless Media dan INMF menunjukkan perubahan besar dalam dunia media digital Indonesia. Kehadiran media berbasis sosial media memang membuka peluang baru dalam penyebaran informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan terkait independensi dan kredibilitas. Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat diharapkan tetap kritis dalam menerima berita dan selalu melakukan verifikasi dari berbagai sumber terpercaya.