Tegal, 11 Februari 2026 — Dalam rangkaian kunjungan pengabdian dan penguatan kolaborasi pendidikan inklusif, Universitas Sains dan Teknologi Komputer (Universitas Stekom) melaksanakan kegiatan pendekatan langsung kepada siswa-siswi disabilitas rungu dan grahita di SLB Negeri Tegal. Kegiatan ini dikemas dalam program kakak asuh dan adik asuh yang mempertemukan mahasiswa dengan para siswa dalam suasana interaksi yang hangat, setara, dan penuh empati.
Program kakak asuh–adik asuh dirancang sebagai media membangun kedekatan emosional sekaligus memperkuat kepercayaan diri siswa. Mahasiswa Universitas Stekom berperan sebagai kakak asuh yang mendampingi siswa dalam aktivitas komunikasi, diskusi ringan, serta pengenalan potensi diri. Pendekatan personal ini menjadi langkah awal dalam menciptakan hubungan yang lebih akrab dan suportif antara dunia pendidikan tinggi dan sekolah luar biasa.

Interaksi yang terbangun tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga edukatif. Mahasiswa diajak memahami karakteristik serta kebutuhan belajar siswa, sementara siswa memperoleh pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas. Suasana kegiatan berlangsung dinamis dan penuh antusiasme, menunjukkan bahwa pendekatan humanis mampu menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan menyenangkan.
Selain membangun keakraban, kegiatan ini juga memiliki tujuan strategis, yakni melakukan pemetaan dan seleksi awal bagi siswa kelas 10, 11, dan 12 yang dinilai siap memasuki dunia kerja. Proses seleksi dilakukan secara observatif dan komunikatif, dengan mempertimbangkan aspek kemandirian, kemampuan memahami instruksi, keterampilan dasar, serta kesiapan mental siswa.
Pendekatan yang diterapkan bersifat partisipatif dan tidak menimbulkan tekanan. Mahasiswa dan tim pendamping melakukan pengamatan melalui aktivitas sederhana serta percakapan terarah guna menggali minat dan potensi masing-masing siswa. Dengan metode ini, proses seleksi tetap berlangsung dalam suasana yang nyaman dan mendukung perkembangan psikologis siswa.

Pihak sekolah menyambut positif kegiatan tersebut karena dinilai memberikan pengalaman nyata bagi siswa dalam mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Guru dan pendamping turut berkolaborasi dalam memberikan informasi terkait perkembangan dan potensi masing-masing peserta didik, sehingga proses identifikasi kesiapan kerja dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Melalui program kakak asuh–adik asuh ini, Universitas Stekom menegaskan komitmennya dalam mendukung pendidikan inklusif berbasis pemberdayaan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari implementasi pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga langkah konkret dalam memfasilitasi transisi siswa menuju dunia kerja yang lebih terarah, adaptif, dan berkelanjutan.