Pada Senin, 29 September 2025, sekitar pukul 14.40 WIB, musala berlantai empat di Pondok Pesantren Al Khoziny, Desa Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk saat lebih dari 100 santri sedang melaksanakan salat Ashar berjemaah. Akibat kejadian ini, satu santri meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka dan beberapa masih terjebak di bawah reruntuhan.
Penyebab Ambruknya Bangunan
Menurut pengasuh Ponpes Al Khoziny, KH. Abdul Salam Mujib, bangunan musala telah dalam tahap pembangunan selama 9 hingga 10 bulan. Proses pengecoran dilakukan pagi hari dan selesai sekitar pukul 12.00 WIB. Diduga kuat pondasi bangunan tidak cukup kuat, sehingga struktur bangunan roboh saat digunakan.
Proses Evakuasi Korban
Setelah kejadian, tim SAR gabungan, termasuk Basarnas, polisi, dan TNI, segera melakukan evakuasi korban. Puluhan ambulans dikerahkan untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat, seperti RS Siti Hajar Sidoarjo dan RSUD RT Notopuro Sidoarjo. Proses evakuasi berlangsung dramatis, dengan suara rintihan korban masih terdengar dari bawah puing-puing bangunan.
Beberapa langkah evakuasi yang dilakukan:
- Menyingkirkan puing-puing dengan alat berat dan manual
- Memberikan pertolongan pertama kepada santri yang terluka
- Mengatur transportasi korban ke rumah sakit terdekat
- Menyediakan dukungan psikologis untuk korban dan keluarga
Tanggapan Pemerintah dan Masyarakat
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bersama Bupati Sidoarjo, Subandi, langsung turun ke lokasi untuk memantau proses evakuasi dan memberikan dukungan kepada korban dan keluarga. Bantuan medis dan logistik dijamin terus disalurkan. Masyarakat setempat dan organisasi seperti Muhammadiyah juga turut serta dalam penanganan korban.
Kesaksian Santri
Wahid, salah satu santri kelas tujuh MTs Al Khoziny, menceritakan bahwa sebelum musala ambruk, ia merasakan getaran dan mendengar suara gemuruh. Ia berhasil menyelamatkan diri dan mengajak teman-temannya keluar dari bangunan. Namun, beberapa santri lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan.
Pihak berwenang telah memulai penyelidikan untuk menentukan penyebab pasti ambruknya bangunan musala. Proses evakuasi korban dan perawatan santri terluka terus dilakukan untuk memastikan tidak ada korban tambahan akibat kejadian ini.