Universitas Stekom melanjutkan kegiatan kunjungannya ke SLB Negeri Jepara pada Senin, 17 November 2025 dengan melakukan program pendekatan personal antara mahasiswa dan siswa Disabilitas. Program ini dirancang untuk membangun hubungan yang lebih akrab dan penuh empati melalui konsep kakak asuh dan adik asuh. Para mahasiswa berinteraksi langsung dengan siswa tuna rungu dan tuna grahita untuk menciptakan suasana belajar yang lebih hangat dan komunikatif.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk membangun kedekatan emosional semata, tetapi juga untuk mengamati karakter, kemampuan, serta potensi para siswa. Melalui interaksi langsung, tim dari Universitas Stekom dapat mengetahui kesiapan siswa khususnya dari kelas 10, 11, dan 12 yang mungkin telah siap untuk memasuki dunia kerja. Pendekatan seperti ini dinilai penting mengingat setiap siswa Disabilitas memiliki kebutuhan dan cara komunikasi yang berbeda.

SLB Negeri Jepara dikenal memiliki banyak siswa berprestasi, dan hal ini menjadi salah satu motivasi bagi Universitas Stekom untuk memperkuat hubungan kerja sama. Salah satu kebanggaan sekolah ini adalah siswi tuna rungu yang Bernama Ririn berhasil meraih Juara 1 Lomba Tata Busana tingkat nasional dengan hadiah sebesar 25 juta rupiah. Prestasi ini membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi seseorang untuk mencapai prestasi tertinggi ketika diberikan kesempatan.
Selain itu, terdapat pula Rahma, salah satu siswi tuna rungu lain yang berhasil meraih Juara 3 lomba merias wajah atau make up. Prestasinya menunjukkan bahwa kreativitas siswa disabilitas berkembang sangat baik melalui dukungan dan bimbingan yang tepat. Kesuksesan para siswa ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa Universitas Stekom dalam melaksanakan kegiatan pengabdian mereka.
Program pendekatan kakak asuh–adik asuh ini diharapkan dapat menjadi titik awal pembinaan berkelanjutan. Universitas Stekom berencana menjadikan pola ini sebagai program pendampingan berjangka panjang bagi siswa disabilitas agar lebih siap menghadapi dunia kerja maupun pengembangan diri di masa depan. Pendampingan semacam ini juga dapat mengurangi rasa canggung siswa dalam berinteraksi dengan orang baru.
Di akhir kegiatan, baik mahasiswa maupun siswa tampak menikmati kebersamaan singkat namun penuh makna tersebut. Banyak siswa menunjukkan rasa percaya diri meningkat saat berkomunikasi dengan para mahasiswa. Universitas Stekom berkomitmen menjadikan kegiatan ini sebagai kegiatan rutin sebagai bagian dari tanggung jawab sosial kampus dalam mendukung pendidikan inklusif.