Logo Universitas STEKOM
MENU
Language
ID | EN | language
Bukan Masa Lalumu yang Kupilih, Tapi Dirimu Hari Ini
Move On & Healing 331 dibaca

Bukan Masa Lalumu yang Kupilih, Tapi Dirimu Hari Ini

A

Ambar Arum Putri Hapsari

Move On & Healing

Diterbitkan

calendar_today 22 Juli 2025

Cinta Itu Tentang Hari Ini, Bukan Menghakimi Kemarin
Tak ada satu pun dari kita yang datang ke dunia ini tanpa jejak luka. Beberapa orang menyimpannya rapi dalam diam, beberapa lainnya membawanya tanpa bisa ditutupi. Dan ketika seseorang yang kita cintai ternyata pernah hidup dalam kisah kelam—baik itu kesalahan masa lalu, hubungan toksik, atau luka batin dari keluarga yang tak utuh—kita dihadapkan pada dua pilihan: lari dari kenyataan atau tetap memilih dia, sepenuh hati.

Aku sempat bimbang ketika tahu bahwa dia—orang yang kini menatapku dengan mata penuh harap—pernah berada dalam hidup yang kacau. Rasanya seperti mendadak dunia berubah warna. Bukan karena aku ingin dia sempurna, tapi karena aku takut: apakah aku cukup kuat untuk menampung luka yang tak pernah aku alami?

Kita Semua Berhak Menjadi Versi Terbaik dari Diri Kita Hari Ini

Masa lalu memang tak bisa dihapus. Tapi bukan berarti itu harus terus menjadi bayang-bayang gelap dalam hubungan. Aku belajar bahwa seseorang yang berani mengungkap masa lalunya, berarti dia cukup jujur dan cukup kuat untuk tak lagi bersembunyi di balik topeng. Dan dari situ kepercayaan dibangun, perlahan namun kokoh.

Dia tidak pernah minta dikasihani. Yang dia harapkan hanya dipahami. Karena dia tahu, untuk bisa dicintai secara utuh, dia harus menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya—bukan hanya versi yang manis di permukaan.

Ketika Cinta Bukan Lagi Soal 'Cocok', Tapi Soal Siapa yang Mau Bertumbuh

Aku mengerti sekarang, bahwa cinta yang matang bukan tentang merasa "klik" sejak awal. Tapi tentang memilih untuk tetap bertahan dan mendengar, bahkan ketika cerita masa lalunya membuat dada sesak. Aku tak ingin jadi orang yang hanya hadir untuk versi terbaiknya. Aku ingin ada di sana, ketika dia masih menata serpihan dirinya.

Tak semua orang mampu mencintai dengan cara seperti ini. Tapi kalau kamu pernah menemukan seseorang yang bersedia menunjukkan masa lalunya tanpa takut ditinggalkan, peluk dia erat. Karena dia sedang memilih untuk sembuh bersamamu.

Di Masa Kini, Kita Punya Hak Menentukan Arah

Bersamanya, aku belajar satu hal: cinta bukan berarti menerima semua dengan mudah, tapi memilih untuk tetap tinggal meski tahu perjalanan ini tidak selalu ringan. Kita tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tapi kita bisa menulis bab baru yang lebih hangat, lebih sehat, dan lebih tulus—bersama-sama.

Bukan masa lalumu yang kupilih, tapi keberanianmu untuk terus bertumbuh. Dan itulah alasanku tetap tinggal.

A

Tentang Penulis

Ambar Arum Putri Hapsari

Penulis — Universitas STEKOM

Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.