Menurut teori Bowlby (1969), kecenderungan kembali ke mantan toxic berkaitan dengan gaya kelekatan (attachment style) yang terbentuk sejak masa kanak-kanak. Individu dengan:
- Anxious attachment cenderung takut ditinggalkan
- Avoidant attachment sulit membangun keintiman
- Disorganized attachment mengalami pola asuh tidak konsisten
Penelitian Mikulincer & Shaver (2007) menunjukkan bahwa 68% orang dengan insecure attachment akan kembali ke hubungan tidak sehat.
"Hubungan adalah cermin dari pola attachment kita yang paling dalam" - Dr. Amir Khan, psikolog klinis
2. Mekanisme Neuropsikologis di Balik Fenomena Ini
- Sistem Reward Dopaminergik
Studi fMRI oleh Fisher (2004) membuktikan bahwa melihat foto mantan mengaktifkan nucleus accumbens, area otak yang terkait dengan sistem rewar
- Cognitive Dissonance Theory (Festinger, 1957)
Kecenderungan untuk:
- Merasionalisasi pilihan buruk
- Mengingat hanya kenangan positif
- Meminimalkan pengalaman negatif
Trauma Bonding (Dutton & Painter, 1993)
Siklus antara:
- Ketegangan → Rekonsiliasi → Hadiah
Menciptakan ikatan mirip ketergantungan
3. Strategi Berbasis Evidence untuk Memutus Siklus
Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
Teknik:
- Thought record untuk mengidentifikasi distorsi kognitif
- Behavioral activation untuk membangun rutinitas baru
- Penguatan Diri Melalui ACT (Acceptance Commitment Therapy)
Langkah:
- Menerima emosi tanpa menghakimi
- Menentukan nilai hidup (values)
- Melakukan tindakan berkomitmen
Membangun Growth Mindset (Dweck, 2006)
- Ubah pola pikir dari "Aku gagal" menjadi "Aku belajar"
- Fokus pada pengembangan kompetensi
Tentang Penulis
Ambar Arum Putri Hapsari
Penulis — Universitas STEKOM
Penulis aktif yang berfokus pada isu-isu akademik, teknologi pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan kampus.