Gelombang demonstrasi kembali berlangsung pada Kamis, 4 September 2025, di Jakarta dan sejumlah daerah lain. Ribuan massa dari berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga organisasi masyarakat sipil, turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi rakyat. Aksi ini masih merupakan rangkaian protes pasca-kericuhan akhir Agustus yang menelan korban jiwa, termasuk Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang tewas akibat tertabrak kendaraan taktis.
Tuntutan BEM SI
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi di depan Gedung DPR/MPR RI dengan tema Selamatkan Indonesia. Mereka menegaskan bahwa keresahan publik lahir dari praktik korupsi, politisasi hukum, manipulasi sejarah, dan kebijakan negara yang abai terhadap rakyat.
Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, menyatakan tragedi Affan harus menjadi momentum untuk reformasi besar-besaran aparat dan lembaga negara. BEM SI menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset, penghentian pajak untuk rakyat kecil, evaluasi anggaran DPR, audit BUMN, perombakan Kabinet Merah Putih, hingga pembebasan demonstran yang ditahan.
Pengamanan dan Aksi di Jakarta
Kepolisian menurunkan 2.143 personel gabungan untuk mengawal aksi di Jakarta Pusat, dengan titik utama sekitar Gedung DPR/MPR RI dan kawasan Monas.
Sejak pagi, massa Gerakan Masyarakat Elang Khatulistiwa Nusantara berunjuk rasa di depan DPR. Mereka menuntut transparansi anggaran DPR, pembentukan pansus antikorupsi, serta pengesahan RUU Perampasan Aset.
Di sisi lain, aliansi serikat buruh yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) menggelar aksi di kawasan Monas dengan jumlah massa sekitar 1.000 orang. Tuntutan mereka meliputi penghentian kriminalisasi aktivis, penurunan tarif pajak, harga sembako, serta pemotongan tunjangan pejabat negara hingga 50 persen.
Selain itu, Forum Ketua DPW Partai Berkarya juga menggelar aksi di Monas dengan isu maladministrasi di Kementerian Hukum dan HAM terkait lambannya pengesahan kepengurusan partai.
Aksi Kamisan dan Solidaritas
Selain aksi mahasiswa dan buruh, Aksi Kamisan tetap berlangsung di berbagai kota sebagai simbol perlawanan damai. Di Jakarta, aksi ini digelar di depan Istana Presiden dengan agenda kuliah jalanan, refleksi, doa bersama, hingga penampilan seni. Di Palu, Aksi Kamisan ke-67 mengusung tema September Hitam sebagai bentuk solidaritas atas korban kekerasan negara.
Tak hanya di Indonesia, solidaritas juga bergema di Belanda. Sejumlah warga Indonesia dan simpatisan menggelar Aksi Kamisan di Den Haag dengan tema Gerak Solidaritas Belanda: Untuk Affan Kurniawan dan Seluruh Korban Kekerasan Negara.
Respon DPR
Menanggapi gelombang tuntutan, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan bahwa pimpinan fraksi akan membahas Gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat. Rangkaian desakan ini terdiri dari 17 poin tuntutan jangka pendek dan 8 tuntutan jangka panjang. Pemerintah dan DPR diberi tenggat hingga 5 September 2025 untuk memenuhi tuntutan jangka pendek, sementara poin jangka panjang diberi waktu satu tahun.
Aksi 4 September 2025 menunjukkan bahwa gelombang protes belum mereda dan kesadaran masyarakat semakin kuat dalam menuntut keadilan, transparansi, serta kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Suara mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil berpadu dalam satu pesan: masa depan bangsa tidak boleh hanya dimiliki segelintir elite, melainkan hak seluruh rakyat Indonesia.