Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa perkembangan teknologi modern harus tetap berjalan berdampingan dengan nilai ketakwaan, moral, dan kemanusiaan. Pesan tersebut disampaikan saat khutbah Shalat Idul Adha yang berlangsung di Lapangan Campus Center Institut Teknologi Bandung pada Rabu, 27 Mei 2026.Dalam khutbahnya, Menteri Brian menyampaikan bahwa dunia saat ini bergerak sangat cepat. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi digital, hingga kecerdasan buatan semakin maju dan memengaruhi kehidupan manusia di berbagai bidang. Namun, menurutnya, ada nilai mendasar yang tidak boleh hilang di tengah kemajuan tersebut, yaitu hati nurani dan akhlak manusia.Ia menekankan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan pernah mampu menggantikan kasih sayang, sementara ilmu setinggi apa pun tidak akan bisa menggantikan ketakwaan kepada Tuhan.

 

Ilmu Pengetahuan Harus Menghadirkan Hikmah

Menteri Brian mengingatkan bahwa kemajuan zaman seharusnya tidak membuat manusia kehilangan arah hidup. Sebaliknya, ilmu pengetahuan perlu melahirkan hikmah dan pendidikan harus membentuk karakter yang mulia.Menurutnya, teknologi seharusnya digunakan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar mengejar kemajuan tanpa tujuan yang jelas. Ia juga menegaskan bahwa kekuasaan dan pengaruh harus dipakai untuk menghadirkan keadilan serta membantu mengurangi penderitaan rakyat. “Kemajuan teknologi harus membawa kemaslahatan bagi manusia dan bangsa,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam khotbah tersebut.

Baca Juga : Survei Lingkungan Belajar 2025 Resmi Dilaksanakan, Semua Sekolah Wajib Ikut Sulingjar
 

Nobel Prize Dijadikan Contoh Manfaat Sains bagi Manusia

Dalam kesempatan itu, Menteri Brian turut menyinggung penghargaan Nobel yang dikenal luas sebagai salah satu penghargaan tertinggi di bidang sains dan kemanusiaan. Menurutnya, semangat dari penghargaan tersebut menunjukkan bahwa sebuah penemuan atau karya ilmiah seharusnya tidak hanya    menghadirkan kebaruan, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi umat manusia.Ia menjelaskan bahwa ukuran keberhasilan ilmu pengetahuan bukan hanya terletak pada kecanggihannya, melainkan pada seberapa besar dampak positif yang dapat dirasakan masyarakat luas.

 

Iduladha Menjadi Pengingat Tentang Keikhlasan

Selain membahas perkembangan teknologi, Menteri Brian juga mengajak jamaah untuk memahami makna mendalam dari Hari Raya Idul Adha. Ia menyampaikan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari jabatan atau kekayaan yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama. Mengambil teladan dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, ia menjelaskan bahwa esensi kurban bukan hanya pada penyembelihan hewan, tetapi pada keikhlasan, ketakwaan, dan kepedulian terhadap sesama manusia. Ia juga mengajak masyarakat menjadikan momentum Idul Adha sebagai sarana introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih baik dalam bertutur kata, serta lebih ringan tangan dalam membantu orang lain.

Doa untuk Generasi Muda dan Masa Depan Indonesia

Di penghujung khutbah, Menteri Brian memimpin doa bersama untuk keselamatan bangsa Indonesia. Ia berharap generasi muda Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, memiliki akhlak yang baik, serta mencintai tanah air dengan penuh kejujuran dan pengabdian.Selain itu, ia juga mendoakan agar Indonesia menjadi negara yang damai, maju, sejahtera, dan terhindar dari berbagai bentuk perpecahan.

 

Pesan yang disampaikan Brian Yuliarto menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia melupakan nilai moral, akhlak, dan ketakwaan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan kecerdasan buatan harus diarahkan untuk menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat serta memperkuat persatuan bangsa. Momentum Idul Adha pun menjadi pengingat penting bahwa keikhlasan, kepedulian sosial, dan kemanusiaan tetap menjadi pondasi utama dalam kehidupan.