Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menyatakan sikap tegas menolak penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menanggung utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh.

Ia menegaskan bahwa utang proyek kereta cepat bukanlah beban sah yang harus ditanggung langsung oleh negara dalam konteks penggunaan anggaran publik.

 

Penolakan Penggunaan APBN

Menurut Purbaya, skema pembiayaan proyek kereta cepat harus diselesaikan melalui mekanisme bisnis dan kesepakatan kontraktual, bukan pembebanan kepada publik. Ia menolak jika sebagian kewajiban finansial Whoosh dibebankan pada anggaran negara.

Pernyataan ini muncul ketika pihak proyek dan pembiayaan mulai mengusulkan agar pemerintah menanggung sebagian risiko atau kewajiban utangPurbaya menyatakan bahwa pemerintah tidak bisa dipaksa untuk memasukkan beban tersebut ke APBN.

 

Tantangan Pembayaran Utang Whoosh

Utang proyek Kereta Cepat ini dikabarkan mencapai sekitar Rp 116 triliun. Beberapa skema yang sedang dipertimbangkan untuk menyelesaikan utang tersebut antara lain:

  • Restrukturisasi pinjaman dengan kreditur asing atau lembaga keuangan
     
  • Perpanjangan tenor atau fase pembayaran agar tidak membebani likuiditas secara tiba-tiba
     
  • Menjual sebagian aset atau mencari investor swasta tambahan

Skema-skema itu digunakan agar beban pembayaran tidak langsung menyasar anggaran negara ataupun membebani keuangan publik.

 

Isu Teror Terhadap Keluarga Purbaya

Di tengah panasnya polemik penolakan pembayaran utang proyek kereta cepat, keluarga Purbaya dikabarkan mengalami teror di rumah pribadi mereka. Putra Purbaya, Yudo Sadewa, mengungkap melalui akun media sosialnya bahwa keluarganya diteror oleh santet setelah pernyataan sang ayah menolak penggunaan APBN viral di publik.

Yudo menjelaskan bahwa keluarga mereka memilih menyikapi kejadian itu dengan rasional dan tenang. Ia menegaskan tidak percaya pada praktik mistik secara membabi buta, namun tetap waspada terhadap gangguan yang muncul.

Beberapa laporan menyebut adanya paket misterius tanpa identitas pengirim yang dikirim ke rumah keluarga Purbaya. Selain itu, muncul isu di media sosial mengenai kiriman darah segar, namun hal ini langsung dibantah oleh Yudo dan disebut sebagai informasi palsu atau hoaks.

Meski belum ada laporan resmi ke pihak berwajib, kasus ini menambah tekanan terhadap keluarga Purbaya di tengah situasi politik dan ekonomi yang memanas.

 

Implikasi Kebijakan bagi Proyek & Publik

Keputusan Purbaya membawa sejumlah konsekuensi yang perlu diperhatikan:

  • Proyek Whoosh harus segera menegosiasikan ulang skema pembiayaan atau penjadwalan utang
     
  • Terdapat tekanan lebih besar terhadap manajemen proyek dan mitra pembiayaan untuk mencari sumber dana alternatif
     
  • Publik mendapat jaminan bahwa APBN tidak akan dipakai untuk menutupi utang komersial proyek infrastruktur

     

Dengan sikap tegas seperti ini, pemerintah menunjukkan bahwa beban keuangan negara tidak boleh dipakai sebagai “lubang pembuangan” bagi proyek yang dipandang bermasalah secara finansial. Langkah selanjutnya akan sangat bergantung pada kesiapan pihak proyek dan kreditur untuk menyusun solusi keuangan mandiri yang adil dan dapat diterima bersama.