Indonesian Disability Art and Culture Festival (INDACT) 2025 kembali menjadi ruang inklusi yang mempertemukan kreativitas seni dengan pemberdayaan komunitas disabilitas. Festival yang berlangsung pada 21–23 November 2025 di Surakarta ini diinisiasi oleh Asosiasi Seniman Tari Indonesia (ASETI) dan Forum Keluarga Spesial Indonesia (FORKESI), serta diselenggarakan oleh PT Cindiprasih Indah Karya dan Mattaya Art and Heritage. Dengan dukungan dari Pemerintah Kota Surakarta serta Komisi Nasional Disabilitas, acara ini menghadirkan semangat kolaborasi dan kesetaraan yang kuat.

Dalam pelaksanaannya, aksesibilitas menjadi salah satu fokus utama penyelenggara, khususnya bagi peserta dan penonton disabilitas rungu. Untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan ramah dan inklusif, INDACT melibatkan sejumlah relawan sebagai Juru Bahasa Isyarat (JBI). Salah satu pihak yang berkontribusi besar adalah Universitas Sains dan Teknologi Komputer (Universitas Stekom).

Universitas Stekom mengirimkan tiga mahasiswa sebagai relawan JBI, yaitu Zalfa Gita Salsabila, Inez Febriana Sari, dan Muh Syakib Surya Saputra. Ketiganya telah memiliki kompetensi dalam komunikasi bahasa isyarat, sehingga dipercaya untuk mendampingi berbagai segmen acara mulai dari pembukaan, workshop, hingga pertunjukan seni. Kehadiran mereka mendapat apresiasi tinggi dari peserta serta pengunjung disabilitas rungu yang merasa terbantu dalam mengikuti jalannya kegiatan.

Peran mahasiswa Stekom sebagai JBI tidak hanya menjadi bentuk kontribusi nyata pada festival, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kepedulian sosial yang ditanamkan oleh universitas. Melalui keterlibatan ini, mahasiswa tidak hanya mengaplikasikan kemampuan bahasa isyarat, tetapi juga memperluas pengalaman empati, layanan publik, dan komunikasi inklusif yang akan berguna dalam kehidupan profesional mereka ke depan.

Selama tiga hari, para relawan JBI Universitas Stekom aktif berada di berbagai titik kegiatan untuk memastikan akses informasi berlangsung lancar. Sikap profesional, kesiapan teknis, dan kepekaan mereka terhadap kebutuhan peserta disabilitas turut berperan dalam menciptakan suasana festival yang ramah dan mudah diikuti oleh semua kalangan. Hal ini sejalan dengan tujuan INDACT untuk membangun ruang seni yang benar-benar aksesibel.

Melalui partisipasi para mahasiswanya, Universitas Stekom menegaskan komitmen institusi dalam mendukung aktivitas yang berorientasi pada inklusi dan kemanusiaan. Keikutsertaan mahasiswa sebagai JBI juga menjadi wujud nyata bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Kontribusi relawan JBI dari Universitas Stekom dalam INDACT 2025 menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki potensi besar dalam mendorong perubahan ke arah masyarakat yang inklusif. Universitas berharap pengalaman ini dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan sosial, khususnya yang berorientasi pada pemberdayaan komunitas disabilitas.