Lasem, 15 Januari 2026 - Belajar tidak selalu harus terjadi di dalam kelas. Terkadang, pemahaman justru hadir saat seseorang melihat dan terlibat langsung. Hal itu dirasakan oleh Laurensius Nevan Andika Giovanny, siswa dari SMA NEGERI 5 SEMARANG, saat mengikuti kegiatan sosialisasi strategi kebekerjaan bagi siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Lasem bersama Universitas STEKOM.

 

Dalam kegiatan tersebut, Laurensius menjadi bagian dari siswa yang terlibat langsung. Ia tidak hanya mengikuti rangkaian acara, tetapi juga hadir dalam setiap proses berinteraksi, mengenal, hingga mendampingi siswa-siswa disabilitas.

 

Melalui interaksi yang sederhana, Laurensius mulai memahami bahwa setiap siswa memiliki cara masing-masing dalam belajar dan berkembang. Tidak ada yang benar-benar sama, namun setiap proses tetap memiliki nilai yang penting.

Kegiatan dimulai dengan pendekatan yang hangat dan penuh keterbukaan. Percakapan ringan menjadi jembatan untuk saling mengenal. Dari situ, muncul pemahaman bahwa perbedaan bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk diterima sebagai bagian dari keberagaman.

 

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Universitas STEKOM dan SLB Negeri Lasem menjadi salah satu langkah nyata dalam kegiatan ini. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap kesiapan kerja siswa berkebutuhan khusus.

Pada sesi pendampingan tes kerja, Laurensius melihat secara langsung bagaimana siswa-siswa disabilitas berusaha menyelesaikan setiap tahap dengan kemampuan yang mereka miliki. Dari pengalaman itu, ia memahami bahwa kesempatan dan lingkungan yang mendukung memiliki peran yang sangat penting.

 

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan kunjungan ke NOYO GIMBAL VIEW. Perjalanan ini menjadi ruang sederhana untuk merenungkan pengalaman yang telah dilalui sepanjang hari.

Rektor Universitas STEKOM, Dr. Joseph Teguh Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses belajar bersama.

“Perjalanan ini bukan hanya tentang kegiatan, tetapi tentang belajar memahami dan tumbuh bersama. Dari setiap pertemuan, selalu ada hal yang bisa dipelajari dan dibawa pulang.”

 

Bagi Laurensius, pengalaman ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga cara pandang. Ia menyadari bahwa inklusivitas bisa dimulai dari hal-hal kecil—hadir, mendengarkan, dan memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang.