Karanganyar, 12 Februari 2026 - Ada hal-hal yang tidak selalu bisa dipelajari di ruang kelas. Hal itu dirasakan oleh Safira Oktaviana Mawardani, siswa dari SMKN H Moenadi Ungaran, saat mengikuti kegiatan sosialisasi strategi kebekerjaan bagi siswa berkebutuhan khusus di SLB Negeri Karanganyar bersama Universitas STEKOM.
Safira merupakan siswa terpilih yang memiliki kepedulian terhadap inklusivitas. Dalam kegiatan yang berlangsung pada 12 Februari 2026 tersebut, ia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai aktivitas bersama siswa disabilitas.
.jpg)
Kegiatan diawali dengan pendekatan dan interaksi sederhana. Dari percakapan singkat hingga kebersamaan dalam aktivitas, Safira mulai melihat bahwa setiap siswa memiliki cara masing-masing dalam belajar dan berproses. Pengalaman ini menjadi ruang belajar yang berbeda tentang kesabaran, pemahaman, dan cara menghargai perbedaan.
Selanjutnya, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Universitas STEKOM dan SLB Negeri Karanganyar sebagai langkah bersama dalam mendukung kesiapan kerja bagi siswa berkebutuhan khusus. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan dan akses yang setara.
.jpg)
Dalam sesi berikutnya, Safira mendampingi siswa-siswa disabilitas saat mengikuti tes kerja. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana mereka berusaha menyelesaikan setiap tahap dengan kemampuan terbaik yang dimiliki. Dari situ, Safira mendapatkan gambaran nyata bahwa proses menuju dunia kerja membutuhkan dukungan, tidak hanya dari kemampuan, tetapi juga dari lingkungan yang memahami.
Setelah kegiatan di SLB Negeri Karanganyar selesai, rombongan melanjutkan kunjungan ke De’Tasikmadoe Heritage. Perjalanan tersebut menjadi penutup dari rangkaian kegiatan, sekaligus waktu untuk merefleksikan pengalaman yang telah dilalui.
.jpg)
Rektor Universitas STEKOM, Dr. Joseph Teguh Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan hanya tentang program, tetapi juga tentang proses belajar bersama.
“Melalui perjalanan ini, Universitas STEKOM hadir untuk belajar, berbagi, dan tumbuh bersama,” ujarnya.

Bagi Safira, kegiatan ini memberi pemahaman bahwa inklusivitas bukan sekadar konsep, melainkan sikap yang perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal sederhana seperti mendampingi, mendengarkan, dan memberi ruang, menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih terbuka bagi semua.