Jepara, senin 17 November 2025 - Program kunjungan Universitas Stekom ke SLB Negeri Jepara berlanjut dengan pelaksanaan tes kecakapan jualan dan tes warna sebagai bagian dari pelatihan vokasi. Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur kemampuan kognitif, motorik, komunikasi, dan kesiapan siswa dalam menghadapi tugas yang berhubungan dengan pelayanan pelanggan, administrasi sederhana, serta ketelitian dalam bekerja.

Pada bagian tes warna, siswa difabel diminta untuk mengenali warna yang ditunjukkan oleh penguji. Mereka kemudian melanjutkan kegiatan dengan mengelompokkan berbagai benda sesuai warna ke tempat yang telah disediakan. Aktivitas ini membantu para siswa meningkatkan kemampuan visual, konsentrasi, serta daya ingat. Sebagian siswa tampak sangat antusias dan mampu mengidentifikasi warna dengan cepat meskipun memiliki hambatan komunikasi.

Tes berjualan menjadi sesi yang paling menarik dan dinamis. Dalam tes ini, siswa diminta berperan sebagai pelayan toko yang melayani pelanggan. Mereka harus menanyakan keinginan pembeli, mencatat pesanan di kertas, menyiapkan pesanan secara mandiri, dan mengantarkannya. Tes ini tidak hanya mengukur kemampuan mereka dalam berinteraksi, tetapi juga menilai kemampuan menulis serta keterampilan menjalankan tugas secara berurutan.

Tidak berhenti sampai di situ, siswa juga diminta berperan sebagai kasir. Mereka menghitung pembayaran, memberikan uang kembalian, serta belajar menggunakan kalkulator sederhana di ponsel. Bagi siswa tuna rungu atau tuna grahita, tantangan ini cukup besar karena memadukan kemampuan berhitung, fokus, dan ketelitian secara bersamaan.

Salah satu momen yang mengesankan adalah ketika seorang siswa tuna rungu bernama Daffa menunjukkan kemampuan berhitung yang sangat baik. Tanpa menggunakan kalkulator, ia mampu menghitung total belanja dan uang kembalian dengan tepat dan cepat. Keahliannya membuat para pendamping terkesan dan menunjukkan bahwa siswa difabel memiliki potensi luar biasa yang sering kali tidak disadari banyak orang.

Guru SLB Negeri Jepara mengungkapkan rasa bangga atas kinerja para siswa. Menurut mereka, latihan seperti ini tidak hanya membangun keterampilan praktis, tetapi juga membantu meningkatkan rasa percaya diri. Ketika siswa mampu menyelesaikan tugas seperti melayani pelanggan atau menghitung uang, mereka merasa dihargai dan mampu berfungsi secara mandiri.

Kegiatan ini diakhiri dengan evaluasi singkat oleh tim Universitas Stekom. Para siswa diberi motivasi agar terus mengembangkan kemampuan mereka. Tim juga mencatat beberapa siswa yang dinilai siap mengikuti pelatihan lanjutan untuk persiapan kerja ringan di masa depan. Program ini menjadi bukti nyata bahwa dengan metode yang tepat, siswa difabel mampu menunjukkan potensi dan prestasi yang membanggakan.